|
PENGEMBANGAN WILAYAH SUNGAI KALI BRANTAS, & BENGAWAN SOLO 1. KALI BRANTAS Pengembangan Wilayah Sungai Kali Brantas dilakukan dengan pendekatan yang terencana, terpadu, menyeluruh, berkesinambungan dan berwawasan lingkungan serta dengan sistem pengelolaan yang terpadu berlandaskan pengertian bahwa wilayah sungai merupakan satu kesatuan hidrologis (one river, one plan, one integrated management). Pengembangan tersebut dilaksanakan berdasar pada suatu Rencana Induk (Master Plan) Pengembangan Wilayah Sungai yang ditinjau kembali pada setiapjangka waktu kurang lebih 10 tahun sekali yakni: - Rencana Induk I (tahun 1961), dititikberatkan pada pengendalian banjir di samping untuk penyediaan air irigasi dan pembangkit tenaga listrik dengan membuat waduk waduk besar sebagai penampung hujan di daerah hulu dan meningkatkan kapasitas pengaliran sungai di hilir.
- Rencana Induk II (tahun 1973), dititikberatkan pada penyediaan air irigasi guna menunjang swasembada pangan di samping untuk pengendalian banjir maupun pemanfaatan potensi air untuk tenaga listrik dan pariwisata.
- Rencana Induk III (tahun 1985), dititikberatkan pada penyediaan air baku untuk air minum dan industri.
- Rencana Induk IV (tahun 1998), dititikberatkan pada manajemen dan konservasi sumber daya air guna meningkatkan kelestarian dan optimalisasi penggunaannya.
Hasil pembangunan, berupa sejumlah prasarana pengairan antara lain: waduk / bendungan (Sengguruh, Sutami, Lahor, Wlingi, Selorejo, Bening dan Wonorejo), bendung gerak dan bendung karet (Lodoyo, Mrican, Lengkong Baru, Gunungsari, Gubeng, SegaweTiudan, Menturus dan Jatimlerek), terowongan (2 km), tanggul (540 km), dan lain sebagainya. Total investasi yang tertanam untuk pengembangan wilayah sungai Kali Brantas sejak tahun 1960 2001 telah mencapai Rp 10,95 triliun (nilai tahun 2010) Namun yang termanfaatkan baru sebesar 2,93 miliar ml/tahun terdiri dari: | Irigasi | 2,4 | miliar ml/th |
|---|
| Domestik | 158 | juta ml/th |
|---|
| Industri | 131 | juta ml/ th |
|---|
| Pemeliharaan Sungai | 204 | juta ml/th |
|---|
| Perikanan | 41 | juta ml/th |
|---|
Penduduk yang tinggal di wilayah sungai Kali Brantas mencapai 15,2juta orang (tahun 2000) atau 43% dari penduduk Provinsi Jawa Timur dan mempunyai kepadatan rata rata 1267 orang/kM2. 2. BENGAWAN SOLO
Pengembangan WS Bengawan Solo dilaksanakan berdasar pada suatu Rencana Induk (Master Plan): - Rencana lnduk I (1974), dititikberatkan pada pengendalian banjir irigasi dan pembangkitan tenaga listrik.
- Rencana Induk II (2001), dititikberatkan pada pengendalian banjir, supla i air baku dan lingkungan.
Hasil pembangunan, berupa sejumlah prasarana pengairan antara lain: waduk/bendungan (Wonogiri, Parang Joho, Song Putri, Gondang, Pondok dan Sangiran), bendung (Colo), perbaikan sungai (Bengawan Solo Hulu), perbaikan tanggul, dan sudetan (shortcut). Total investasi yang tertanam untuk pengembangan wilayah Sungai Bengawan Solo sejak tahun 1965 2003 telah mencapai Rp 4,33 triliun (nilai tahun 2010).
|