English  l  Indonesia

KELUHAN PELANGGAN :
(0341)551971
Pesawat 113

PROGRAM KEMITRAAN & BINA LINGKUNGAN
  HUBUNGI KAMI

Kantor Pusat
Jl Surabaya No. 2A,
Malang - 65115
PO. BOX 39
Telp. (0341)551971
Faks. (0341)551976
Email : mlg@jasatirta1.co.id


Kantor WS
Bengawan Solo

Jl Raya Kartasura KM.7
SURAKARTA 57102
PO Box 267
Telp. (0271)727270
Faks. (0271)727270
Email : umum_bs@jasatirta1.co.id


Kantor Jakarta
Jl Bendungan Hilir Raya
Kompleks Kopro Banjir No 18
Jakarta
Telp. (021)5749473
Faks. (021)5737118
Email : jkt@jasatirta1.co.id

  LINKS
 Meneg. BUMN
Dep. PU
Dep. PU
JKPKA
Info SDM
BLOGSPOT
  1. Taman Wisata Selorejo
  2. Taman Wisata Wonorejo
  3. Taman Wisata Karangkates
  4. Taman Wisata Waruturi Mrican
  5. Wisma Ijen Heritage

Saran dan Komentar
mlg@jasatirta1.co.id
© Perum Jasa Tirta I
Tahun 2007
Best View
Monitor Screen 1024x768



NI   19 – 17025 – 2000
Sert. No. LP – 227 –  IDN

 


Jumlah Pengunjung ke :

538  

Sejak 5 Desember 2007

JASATIRTA ONLINE
     

PATROLI MALAM LEBIH BERBAHAYA



Imam Rochani Lindungi Kali Surabaya Siang dan Malam

Patroli Malam Lebih Berbahaya


Pencemaran di Kali Surabaya pasti bias dihentikan. Optimisme itulah yang selalu menjadi pengerak Imam Rochani untuk terus menyusuri Kali Surabaya. Dia bersama timnya berupaya keras menghentikan kebiasaaan pabrik membuang limbah ke sungai.

“bukan siapa-siapa, tapi Imam Rochani dijadikan coordinator Tim Patroli Air Kali Surabaya. Dia ditunuk anggota Tim Patroli yang berasal dari Badan Lingkungan Hidup Jatim, Perum Jasa Tirta I (PJT I), dan Polda Jatim”, tutur afrizal akbar, sahabat Imam Rochani. Dia mengawali cerita peran Imam dalam Tim Patroli Air Kali Surabaya.

Memang, sejak awal Imam yang menggerakkan pembentukan tim tersebut. Hal dilaksanakan pada tahun 2008. Anggota tim tersebut terdiri atas BLH Jatim, PJT I, dan Polwiltabes (saat ini polresta Surabaya). Liga lembaga itu membuat memorandum of understanding (MoU) untuk berpatroli di Kali Surabaya. Tujuannya, menghentikan pencemaran sumber air minum warga.

Sebelum dikukuhkan sebagai coordinator tim, Imam mengikuti Pekan Pekan Lingkungan Hidup di Jakarta pada 2007. Saat itu dia terinspirasi dari Badan Lingkungan Hidup Jawa Barat (Jabar). Mereka memiliki konsep berpatroli menyusuri kali- kali Jabar. Anggotanya pun berasal dari BLH Jabar dan pihak kepolosian. Bahkan, patrol itu mendapatkan anggaran dari pemerintah setempat.

Akhirnya, bermodal pengetahuan tersebut, dia mengupayakan sebuah patrol di jatim. Tepatnya di Kali Surabaya . Sebab, sering terjadi pencemaran pada sumber air baku di tiga PDAM kabupaten dan kota ini. Yakni, PDAM Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Lalu , dia mendatangi PJT I dan dan mengutarakan niatnya tersebut. Saat itu PJT I yang dipimpin Widyo Purwanto menyetujui  langkah tersebut. BLH Jatim pun mendukung.

Kemodian dia menggandeng Polwiltabes Surabaya yang saat ini menjadi Polrestabes Surabaya untuk penegakan hokum.

Akhir 2008 MoU ditandatangani olrh tiga lembaga pelat merah itu. Patroli perdana dilakukan pada awal November 2008. Pada patrol pertama tersebut, tim terkendala medan. Kenekatan mereka menyusuri Kali Surabaya makin lengkap dengan dua perahu yang bocor. Kondisi itu membuat tim menepi untuk memompa perahu setiap setengah jam. Meski harus mempertaruhkan nyawa, patrol air Kali Surabaya harus terus dilakukan.” Meski berbahaya, jika (patrol ini) tidak dilakukan, kapan pencemaran akan berkurang?” ujar Imam.

Saat itu tim mengamati instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pabrik pembuang limbah. Ternyata, tidak mudah masuk ke pabrik. Mereka harus menghadapi puluhan petugas sekuriti pabrik, bahkan preman-preman bayaran pabrik. Salah satunya, petugas sekuriti PT. Surabaya Agung Kertas (SAK). Saat itu Imam dan tim mengetahui bahwa PT SAK telah membuang limbah. Akhirnya, tim memutuskan untuk masuk ke pabrik. Namun 12 petugas sekuriti menghadang laju tim tersebut.” Awalnya, mereka terlihat sangat garang,” katanya.

Situasi tak mengenakkan tersebut tidak membuat Imam mengurungkan niat untuk masuk ke pabrik. Imam menjelaskan, tim patrol itu berasal dari pemerintah, dan akan melihat IPAL. Sebab, limbah yang dibuang tidak sesuai dengan baku mutu. Namun, belasan sekuriti bergeming.

Emosi Imam pun meledak. Dia marah kepada sekuriti-sekuriti itu. Anggota tim patrol dari Polwiltabes Surabaya akhirnya turun tangan dengan menunjukan identitasnya. Akhirnya sekuriti pabrik tersebut memperbolehkan tim masuk. “Saat itulah diketahui IPAL PT SAK kurang sempurna,” ungkapnya.

Melalui BLH Jatim, mereka membina PT SAK untuk membenahi IPAL-nya. Setelah beberapa waktu, PT SAK menjadi salah satu pabrik yang saat ini limbahnya sangat baik dan sesuai dengan baku mutu. Sebenarnya hal inilah yang diinginkan Imam.” Bila mau, pabrik sebenarnya bias membuat IPAL- nya berfungsi dengan baik dan lebih peduli terhadap lingkungan,” jelasnya.

Karena besar manfaatnya, Imam mengajukan perahu baru. PJT I mengabulkannya dengan memberikan dua perahu mesin untuk tim patroli. Meski fasilitas memadahi, ini bukan berarti patrol di Kali Surabaya membutuhkan tenaga ekstra. Sebab, berpatroli di sepanjang Kali Surabaya membutuhkan waktu minimal tiga jam. Selain itu, mereka harus awas melihat perubahan kondisi air yang mungkin tercemar limbah.

Pabrik, menurut imam, sering kucing-kucingan dengan tim patrol. Kebanyakan, pabrik yang mokong itu membuang limbah ketika malam. Untuk mentiasatinya, Imam melakukan patrol malam sungguh berbeda. Sebab, keadaan gelap gulita, arus sungai juga terasa lebih deras. Saat itu tim patrol berangkat dari Mojokerto menuju Surabaya.

Keadaan tersebut membuat anggota tim patrol yang menggunakan dua perahu mesin hampir putus asa. Namun, mereka memutuskan untuk melanjutkan patrol. Tiba-tiba hujan turun. Tantangan berpatroli malam tidak berhenti di situ. Di tengah perjalanan, tiba- tiba salah satu perahu mogok. Mesin sudah berkali- kali coba dihidupkan. Akhirnya Imam berinisiatif agar satu perahu yang masih hidup mendorong perahu yang mogok itu.

Imam tidak ingin perahu mogok itu ditarik perahu yang ditumpanginya. Bila dihitung, butuh waktu lebih dari enam jam untuk berpatroli malam ituy. Padahal, biasanya patrol cukup tiga jam.” Walau bertaruh nyawa, untuk menghentikan pencemaran lingkungan, kejadian itu tak mengapa,” ujarnya tegas.

Saat itu sudah lima tahun tim patroli terus manjaga Kali Surabaya. Puluhan pabrik di sepanjang kali harus berfikir ulang untuk membuang limbah yang tidak sesuai dengan baku mutu. Dari patrol selama ini, tim mampu memetakan jumlah pabrik yang berpotensi membuang limbah yang tidak sesuai dengan baku mutu di Kali Surabaya. “Ada 98 Pabrik,” ungkap Imam yang juga direktur Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH).

Kerja keras mereka membuahkan kegembiraan lain. Pada 2010, tim patrol Kali Surabaya mendapat kunjungan dari BLH Jawa Barat. Mereka ingin belajar mengenai system dan proses patrol kali di Jatim.

Tim patroli kali dari BLH Jabarmengeluhkan sulit menjalankan patroli. Imam bersama tim patroli Kali Surabaya bertukar pengalaman dengan BLH Jabar. Anggota BLH Jabar diajak mengikuti patroli di Kali Surabaya. Sepertinya, Imam yang terinspirasi oleh BLH Jabar, justru lebih dulu menerapkan konsep patroli kali itu.

Upaya kerasnya itu membuat Imam Rochani dianugerahi penghargaan Bung Tomo Award 2011 dengan kategori lingkungan hidup. Pengharjaan itu ditujukan atas pengabdiannya menjaga Kali Surabaya selama ini. Saat itu dia mendapatkan uang pengharagaan Rp. 2 Juta.

Setelah menerima penghargaan, Imam menghubungi anggota tim patroli.” Kami memutuskan esok harinya menggunakan uang itu untuk berpatroli,” ujar Afrizal yang juga humas KLH, LSM yang dipimpin Imam.

Saat ini tim patroli memiliki sebuah misi yang belum tercapai.  Mereka ingin membuat IPAL komunal untuk pabrik-pabrik di sempadan Kali Surabaya. Caranya, pabrik-pabrik itu berpatungan membuat IPAL yang cukup untuk menampung limbah. Lalu, ada pipa yang cukup untuk menampung limbah. Lalu, ada pipa yang menghubungkan pabrik dengan IPAL. Dengan itu, kata Imam, pembuatan IPAL akan lebih murah.

Jadi, pabrik yang beralasan kekurangan anggaran untuk membuat IPAL dan pabrik kecil tertolong dengan cara tersebut. Saat ini Imam mengupayakan hal itu. Caranya pabrik- pabrik itu harus sadar dulu soal pentingnya lingkungan atau Kali Surabaya. Setelah itu, mereka (pabril) pasti mencari salusi yang murah untuk membuat IPAL.”Saat itulah ide ini dijalankan,” janjinya.

Sumber : (Jawapos/metropolis/patroli malam lebih berbahaya)



 copyright 2007 JASA TIRTA I